Posted by: surryantodw | July 1, 2008

Lamongan Gencarkan Pengajaran Bahasa Mandarin

Bupati Lamongan Masfuk terus menggulirkan terobosan baru untuk memacu daerahnya. Mulai tahun 2008 ini wajib ada ekstrakurikuler Bahasa Mandarin di setiap kecamatan. Upaya itu bukannya tanpa alasan namun didorong upaya dalam rangka memberikan nilai tambah masyarakat Lamongan. Hal itu juga untuk menangkap peluang bisnis dan investasi ke depan agar Lamongan lebih punya keunggulan kompetitif khususnya di bidang sumber daya manusia di samping sumber daya alam.

Masfuk kepada Kompas Senin (30/6) mengatakan saat ini sudah banyak investor yang tertarik menanamkan modalnya ke Lamongan diantaranya dari Republik Rakyat China (RRC). “Saat saya studi banding ke RRC saya melihat ekonominya sangat kuat dan perkembangan China di dunia luar biasa. Saya melihat peluang dan masa depan masyarakat Lamongan secara sistematis, seandainya warga Lamongan pintar Bahasa Mandarin akan punya daya saing, ” kata Masfuk.

Ternyata gagasan Masfuk direspon positif, bahwa siswa tidak hanya pintar Bahasa Arab atau Bahasa Inggris tetapi juga Bahasa Mandarin. Bahasa Mandarin yang awalnya diwajibkan untuk SMA justru sekarang Bahasa Mandarin mulai diajarkan mulai tingkat SD dan SMP. “Saya harapkan lulusan SMA dan SMK di Lamongan tidak akan minder. Ini artinya generasi muda Lamongan siap menyongsong masa depan, adaptif mau maju dan mau mengubah nasib, ” tuturnya.

Menurut Masfuk bila masyarakat sudah memiliki daya saing, mau bekerja keras tinggal mengelola sumber daya yang ada. Melalui penguasaan Bahasa Mandarin diharapkan bisa membangkitkan ekonomi Lamongan. Saat ini beberapa investor tertarik dan akan dibangun sekitar 80 pabrik di Lamongan di atas lahan 200 hektar.  

“RRC diantaranya berminat berinvestasi di Lamongan senilai Rp 25 triliun. Ada juga investor dari Belanda Rp8 triliun. Itu belum termasuk tawaran investasi dari Singapura dan Temasek serta Kepulauan Riau, ” kata Masfuk.

Alasan itulah yang mendasari Masfuk menentukan langkah dan kebijakan mewajibkan penguasaan Bahasa Mandarin disamping bahasa asing lainnya. “Kelak bila investasi dari China benar-benar ada warga Lamongan bisa menjadi tenaga kerja dan sudah fasih berkomunikasi. Dengan begitu lebih mudah adaptif dan menyesuaikan etos kerja perusahaan. Saya tahu warga Lamongan adaptif, mau mengubah nasib, gigih dan pekerja keras. Bila mereka pinter justru didatangi pasar tenaga kerja tidak harus merantau lagi, ” jelasnya.

Menurut Masfuk bahasa merupakan alat belajar apa saja, dan kenapa dipilih Bahasa Mandarin karena banyak pelajaran yang bisa diambil dari China. Saya berharap masyarakat Lamongan mampu membuka cakrawala berpikir, apalagi Nabi Muhammad pun berpesan tuntutlah ilmu sampai negeri China. “Inilah yang berusaha saya wujudkan sebagai kepala daerah khususnya untuk warga Lamongan,” tegasnya.

Meskipun masih jauh dari harapan kebijakan yang diambil Masfuk mulai dirasakan manfaatknya. Dia menyatakan terharu saat digelar lomba pidato Bahasa Mandarin pesertanya merata mulai SD hingga SMA. “Ke depan saya harapkan pegawai di Lamongan juga fasih berbahasa Mandarin. Saat ini ada yang sudah mulai kursus, ” ujarnya.

Visi agar di setiap lembaga pendidikan di Kabupaten Lamongan mengajarkan Bahasa Mandarin sudah dicanangkan sejak 2005. Perkembangannya mulai pesat sejak dua tahun terakhir ini. Namun karena berupa program ekstrakurikuler, belum banyak lembaga pendidikan yang melaporkan ekstrakurikuler baru tersebut.

Mulai tahun ajaran 2008/2009 ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lamongan menginstruksikan agar di setiap kecamatan paling tidak ada satu lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pembelajaran Bahasa Mandarin. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lamongan Mustofa Nur mengatakan saat ini sedikitnya ada tiga sekolah dasar, 5 dari 10 SMA di Lamongan, dua SMK dan delapan SMP yang sudah memasukkkan bahasa Mandarin dalam ekstrakurikulernya. “Ke depan kami akan masukkan Bahasa Mandarin sebagai kurikulum muatan lokal agar lebih efektif,” kata Mustofa.

Lembaga pendidikan tingkat Sekolah Dasar (SD) yang memiliki program ekstrakulikuler Bahasa Mandarin yakni SD Negeri Gebang Angkrik 2 Kecamatan Ngimbang, SD Negeri Jetis III dan SD Negeri Made IV Kecamatan Lamongan. Di SD Negeri Gebang Angkrik 2 Kecamatan Ngimbang, ekstrakulikuler Bahasa Mandarin cukup berkembang pesat karena guru pengajarnya Titin lulusan Sastra Bahasa Mandarin, berbahasa Mandarin aktif. Sementara dua SD di Kota Lamongan bekerja sama dengan lembaga kursus Bahasa Mandarin.

Di tingkat SLTP dan sederajat, Bahasa Mandarin diantaranya dikembangkan di SMP Negeri 2 Lamongan. Untuk lembaga pendidikan SLTA dan sederajat lembaga pendidikan yang tercatat memprogramkan Bahasa Mandarin dalam ekstrakurikulernya diantaranya SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 2 Lamongan serta SMA Negeri Paciran, SMK Negeri Lamongan, SMA Negeri Babat dan SMK Muhammadiyah 5 Babat.  

Penggunaan Bahasa Mandarin secara aktif terutama dilakukan oleh SMK Muhammadiyah 5 Babat. “Pada pelepasan kunjungan siswanya ke sebuah pabrik industri pidato sambutannya sudah menggunakan Bahasa Mandarin,” kata Mustofa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: